Umar bin Abdul Aziz dan Lentera Negara

 

Kaligrafi: Ibrahim.id
Umar bin Abdul Aziz atau Umar II adalah khalifah ke delapan yang memimpin Dinasti Umayyah. Umar berasal dari Bani Umayah cabang Marwani, dan merupakan sepupu dari khalifah sebelumnya, Sulaiman. 

Umar bin Abdul Aziz lahir di Madinah pada tahun 682 dari pasangan Abdul Aziz bin Marwan bin Al-Hakam dan Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Al-Khattab.

Di Usianya yang ke 36 tahun, Umar bin Abdul Aziz diangkat mejadi kahlifah pada dinasti Umayyah, dan memimpin dari tahun 717 sampai 720. Meski masa kekuasaannya yang terbilang singkat (2,5 tahun), namun Umar mampu mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Umar merupakan salah satu khalifah yang paling dikenal dalam sejarah Islam. Dia dipandang sebagai sosok yang saleh dan kerap disebut sebagai khulafaurrosyidin kelima. 

Terdapat banyak kisah menarik tentang pribadi Umar bin Abdul Aziz yang patut menjadi contoh bagi para pemimpin. Diantara berbagai kisah teladannya, terdapat dua kisah terpuji yang patut dicontoh oleh para pemimpin modern saat ini, yaitu kisah yang berkaitan dengan sifat Waro'.

"Waro' adalah sifat menahan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan madharat lalu menyeretnya kepada hal-hal yang haram dan syubhat." 

Sifat wara’ Umar bin Abdul Aziz diantaranya adalah kehati-hatian Umar terhadap hal-hal syubhat. Umar tidak pernah menggunakan fasilitas negara untuk urusan pribadi dan keluarganya, Umar pun enggan menerima hadiah dari para pejabat maupun dari ahlul dzimmah karena dapat dianggap suap.

Sifat waro' Umar bin Abdul Aziz telah membentuk pribadi Umar sebagai pribadi yang dapat memisahkan antara harta pribadi dan harta negara. Umar bin Abdul Aziz merupakan sosok yang tegas menolak menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi, meskipun hanya sekedar sebuah lentera.

Alkisah, pada suatu malam Khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang bekerja di ruangannya, lalu terdengar suara pintu diketuk. 

Umar bertanya ”Siapa diluar?"

Saya, putramu!” 

Terdengar suara menjawab dari salah seorang puteranya yang berada di luar. Sumber lain dalam buku Kisah-kisah dari Tarikh (Endang Basri Ananda,1977) menyebutkan bahwa yang mengetuk pintu itu adalah pembantu khalifah.

"Silakan masuk!” jawab khalifah sambil memadamkan lampu di dekatnya.  

Lalu masuklah puteranya dan melihat ruangan dalam keadaan gelap gulita, maka dia bertanya, "Mengapa Bapak padamkan lampu dan menjadikan ruangan ini gelap gulita?" 

Sambil tersenyum Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjawab, ”Sebab, lampu itu, minyaknya dibeli dengan uang negara! Sedang urusan yang dibicarakan, adalah urusan pribadi!

Baca juga: Relevansi Sila Ketuhanan yang Maha Esa dengan Ajaran Islam

Sifat Waro' pun telah membentuk pribadi Umar bin Abdul Aziz menjadi sosok yang penuh kehati-hatian dalam menerima hadiah, bahkan Umar selalu menolak hadiah yang diberikan kepadanya walaupun hanya sebatas buah Apel.

Alkisah, diriwayatkan oleh ’Amr bin Muhajir, suatu ketika Umar berkeinginan untuk memakan apel, kemudian salah seorang anggota keluarganya menghadiahkan apel yang diinginkan Umar. Lalu Umar berkata: Alangkah harum aromanya. Wahai pelayan, kembalikan apel ini kepada si pemberi dan sampaikan salam saya kepadanya bahwa hadiah yang dikirim telah sampai.

Amr bin Muhajir mempertanyakan sikap Umar tersebut, dan berkata: "Wahai Amirul Mukminin, orang yang memberi hadiah apel itu adalah saudara sepupumu dan salah seorang yang masih memiliki hubungan kerabat yang sangat dekat denganmu. Bukankah Rasulullah Saw. juga menerima hadiah yang diberikan orang lain kepadanya?

Umar menjawab, Celaka kamu, sesungguhnya hadiah yang diberikan kepada Rasulullah saw adalah benar-benar hadiah, sedangkan yang diberikan kepadaku ini adalah suap.

Demikian sepenggal kisah keteladanan Umar bin Abdul Aziz, semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita dalam mewujudkan pribadi yang lebih baik dan lebih bertanggungjawab, amiin.

Referensi:

Wikipedia - Umar bin Abdul Aziz

NU Online - Umar bin Abdul Aziz dan Lampu Negara


Sumber: Pendidikan Kewarganegaraan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahan Ajar

[Bahan Ajar][bsummary]

Pancasila

[Pancasila][twocolumns]